10 MENU BISNIS KULINER YANG BAKAL NGE HIT DI ERA LEASURE 2018 (CERDAS MENDEVELOP MENU DI TAHUN ERA DIGITAL) « YuyunAnwar.Com

Minggu, 31 Desember 2017

10 MENU BISNIS KULINER YANG BAKAL NGE HIT DI ERA LEASURE 2018 (CERDAS MENDEVELOP MENU DI TAHUN ERA DIGITAL)

10 MENU BISNIS KULINER YANG BAKAL NGE HIT DI ERA LEASURE 2018
(CERDAS MENDEVELOP MENU DI TAHUN ERA DIGITAL)
Yuyun Anwar
IG yuyun_anwar
Praktisi kuliner dan olahan pangan

Tahun 2017 segera berakhir, ditandai pertumbuhan yang luar biasa di bisnis kuliner dan menurunnya usaha produsen retail makanan minuman, di tahun 2018 pun juga akan banyak prediksi dan kemugkinana menu menu yang bakal ngehits baik menggantikan menu usang atau menu yang memang sudah tidak sesuai dengan permintaan pasar.
Ya, permintaan pasar,  tidak bicara kebutuhan pasar. Jika bicara makanan dalam konteks kebutuhan pasti ujungnya adalah bicara barang komoditi memenuhi kebutuhan pokok perut lapar. Permintaan pasar pastinya terkait dengan perubahahan gaya hidup dan pasar kuliner di tahun 2018. Era digital yang ditandai dengan perubahan cara konsumsi dan harapan saat menikmatimati makan juga mengalami perubahan yang luar biasa. Digital dan leasure economic, mau tidak mau membuat medan perang bisnis kuliner pun bisa berubah cepat dan drastic.
Kelompok jaringan resto internasional dan nasionalpun tidak bisa bertahan dengan menu lamanya yang memang sudah masuk ke benak konsumen.  Persaingan tidak lagi focus pada modal yang dimilki. UKM dengan modal kecil mampu melenggang santai dan mengilas perusahaan besar begitu menemukan kategori bisnisnya yang kadang di triger dengan menu dengan embel embel kreatif kekinian. Dan persaingan bisnis kuliner banyak dimasuki pemain baru baik dari perusahaan besar yang shifting karena usahanya tidak relevan lagi dengan era digital, Perusahaan besar yang ingin mencari bentuk baru usahanya atau Pemain baru
Terjadi perubahan, menu andalan seolah terancam dengan pergerakan cepat menu menu yang harus bisa menjawab kebutuhan permintaan pasar di tahun 2018. Dalam beberapa kali resto chain semacam McD, KFC, Starbuck atau jaringan resto lainnya mencoba mengikuti arus “cheese” dan geprek misalnya. Kafe besarpun mulai merapatkan dirinya dengan mengangkat tema kopi speciality. Aneka discount dan bentuk menu baru di bombardir di pasar untuk menjawab persaingan sengit di bisnis kuliner.
Pergeseran significant dari kekinian menuju “pleasure”
Menurut Kinton dan Caserani (sudiara, 2001:1) menu or a bill a fare is a list of prepared and presentation should attract customer and represent value for money. Represent value menjelaskan komunikasi antara makanan yang hendak disajikan dengan customer. Value yang ditawarkan beragam  bukan hanya bersifat fisik tapi juga menyangkut aspek psikologis juga sehingga seimbang setara dengan nilai uang yang dibayar.
Di tahun 2017, menu makanan yang banyak diminati ditandai dengan convenience dan praktis. Bahwa makanan disajikan dengan cepat, enak dan mudah sudah dianggap unggul sehingga menu yang mewakili kondisi diatas jadi laris. Apalagi sentuhan modern dengan sebutan kekinian seolah menyulap menu lama tampil lebih up to date jadi banyak digemari. Lalu muncul mie toping kekinian, geprek mozzarella, cheese cake,roti pisang dengan aneka toping dan beberapa minuman bertoping. Era Toping begitulah sentuhan di tahu 2017.
Era leasure, kata beberapa ahli menyebutkan bahwa bisnis kuliner ditandai dengan experience bukan hanya sekedar benefit atau keunggulan fisik saja. Bahwa untuk mendevelop menu yang bisa memenuhi kebutuhan pasar yang dibidik harus benar benar memiliki kelebihan bukan hanya benefit yang ditampilkan tapi ekperiencenya.  Bahwa untuk membuat menu geprek tidak cukup murah,enak, pedas, isinya banyak saja tapi bagaimana makan ayam geprek berasa lebih keren. Memang sangat erat kaitannya dengan branding. Menciptakan ikatan emosional. Pleasure leasure dan seterusnya adalah hal hal yang emosional. Ok, tidak akan banyak membahas sisi brandingnya, tapi untuk mendevelop menu yang benar di tahun 2018 harus mengansipasi fenomina psikologis dan karakteristik yang banyak muncul di era leasure agar menu yang didevelop mendekati kebutuhan pasar.
Menu kuliner leasure harus bisa menyesuiakan dengan kebutuhan era digital yakni mudah sehingga jangan sampai menu yang disajikan mengandung unsur complicated baik cara prepare,cara makan sampai cara kemasnya. Murah, adalah persyaratan yang mutlak dituntut sehingga developing menu harus mempertimbangkan aspek murah seoptimal mungkin. Aspek murah ini juga didorong oleh turunnya daya beli di Indonesia . Meski turun daya beli, semua seolah masih ingin makan makan happy (harus terjangkau harganya). Terlihat leasure adalah syarat , maka unsur penyusnan menu harus mampu menciptakan atau menghasilkan experience baik after taste, appearance dan performa, bentuk atau warna menu yang membuat customer merasa puas. Kemampuan meletakan keunggulan sensorik bagi seorang pengembang menu pasti akan membuat menu mudah diterima di era leasure seperti sekarang ini. Mencontoh menu menu “orang kaya” yang dianggap memiliki unsur mewah bisa mewakili kondisi “kekinian” 2018 (bukan toping) atau menu dengan penggunaan tehnologi sehingga menjadi symbol digital modern.

10 MENU YANG MEMENUHI KRETERIA LEASURE
1. Menu Hot Plate plus Nasi Range Price Rp. 30-35K, akan banyak diminati karena mencontoh kesuksesan papper lunch yang mampu menciptkan perasaan amazing mengaduk nasi dan daging mentah di hot plate. Mirip mirip begini akan banyak diminati. Experience nya dapat, harga dan perceived expectasinya yakni kenyang dan pas bisa didapatkan setelah makan.
 
2. Fish n Chip di harga Price 25-35 K, menciptkan market sendiri yakni konsumen yang tidak mampu membeli fish n co atau fish n chip dengan price 60 K, dan ingin meniru style pembeli fish n chip. Beberapa sudah mulai muncul dan langsung happening dan diprediksi akan semakin ramai seiiring gencarnya sosialisasi ikan filet dory/patin . Resto fish n chip ini akan punya potensi tumbuh cepat di segmen menengah. Bisa jadi kelompok ini akan menghabiskan belanja fish n chip minimal seminggu sekali.

3. Mie toping level segmen C dengan price 8-10 K akan makin berkembang dan Bakmi konvensional dengan price 20-25 K makin digemari karena untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Mie toping kekinian dengan basic mie instan yang booming diusung Upnormal bisa jadi pertumbuhannya mengalami stagnasi karena kuliner sejenis dengan barrier rendah sudah banyak ditiru oleh competitor. Pembeli realistis menganggap,mie instan “kurang pleasure” baik dari taste dan keunikannya yakni porsinya lebih tidak  mengenyangkan di banding mie segar yang dibuat langsung. Mie setan, Mie kober, mie jogging, mie gajah mada atau yang mendekati versi mereka bisa mencuri pasar disini. Ingat milenial sekarang sebagian besar konsumsi Samyang bukan lagi indomie. Indomie dikonsumsi milenial umur 30 – 40 tahunan yang punya riwayat “ngirit” dengan Indomie.
4. Ramen medium price  25-35 K di bawah harga Marugame/sushi tei akan menjadi hidangan yang banyak diminati dengan porsi sama dan taste yang mendekati menjadi alternative konsumen yang ingin spending di harga tersebut. Hasrat ingin menikmati leasure Japanese food dengan budget terjangkau pasti akan dipenuhi di sini. Restonya harus  terkesan jepang. Di menu ini konsumennya sudah ter edukasi. Ini bukan ramen level levelan tapi mendekati autentik ramen.
 
5. Spicy wings versi Wingstop with various flavor banyak dicari, ngemil atau bahkan diarahkan ke makanan berat ala wingstop menjadi tempat nongkrong yang paling digemari . pricing bisa di segment tengah 20-30 K atau sampai yang teratas. Spicy wing disini bisa dicombine dengan kentang.
6. Menu kopi dengan mengusung kopi tradisional makin banyak menyebar. Dari level segment C sampai ke A, warung kopi baik yang serius sampai meniru konsep upnormal akan makin marak.  Meski yang diusung kopi serius jangan pernah berhrap yang laku adalah kopi speciality. Es kopi, capucino, frapucino dan seterusnya lebih laris.
7. Ayam Geprek tetap eksis di level kelas below 20 ribu. Menu geprek kembali ke selera asal yakni sambal yang pedas. Geprek kekinian yang masih diterima adalah rasa keju dan bbq (rasa yang sudah lama dikenal dan diedukasi).  Pasar geprek makin ketat, tingkat level persaingan geprek secara value paling diterima adalah ayam gepuk pak Gembus (ayam nya besar,sambelnya banyak dan nasinya banyak dengan adfordable price). Lagi lagi leasurenya pada sambal yang pedas.
8. Menu Pizza antaran ala Domino Pizza/PHD makin tumbuh dengan pricing 25-35 K, Pizza menjadi gaya hidup milenial jika lapar dan ingin pesan via online.
 
9. Jajanan Yang digemari dan pasti dibeli ulang adalah yang terjangkau dan mengenyangkan misal pentol,cireng,cilok ,seblak ,ubi goreng ,pisang goreng atau bakso yang bisa menjadi pengganjal perut. Jajan snack berupa keripik/kerupuk kurang peminat karena tidak ada efek kenyang. Variasi toping tetap diminati.
10. Makanan sehat , natural dan diet khusus memiliki pasar yang tidak ramai tapi cukup stabil. Potensi untuk menjual tema makanan ini pasti ada pasarnya.

Benar dan tidaknya silahkan dibuktikan di tahun 2018 ya. Selamat Tahun Baru 2018.
31 desember  2017, Yuyun Anwar
Praktisi kuliner dan olahan Pangan
IG yuyun_anwar








0 komentar