LOKAL WISDOM, SEKALI LAGI WISDOM, CARA PALING UNIK MENGONTROL KINERJA CREW WARUNG #tanpachef #3days #automatisasimasakan « YuyunAnwar.Com

Senin, 10 Juli 2017

LOKAL WISDOM, SEKALI LAGI WISDOM, CARA PALING UNIK MENGONTROL KINERJA CREW WARUNG #tanpachef #3days #automatisasimasakan

LOKAL WISDOM, CARA UNIK MAMPU MENJADI SPIRIT CONTROL KINERJA CREW WARUNG MAKAN
Oleh : Yuyun Anwar

Penulis,konsultan dan praktisi Pangan olahan
IG yuyun_anwar
FP info kursus kuliner pangan


Manajemen,Apakah cukup Ampuh Kontrol Kinerja Crew Warung ?
Menekuni profesi praktisi dengan mendampingi beberapa teman teman UKM atau startup yang mulai naik kelas, banyak yang harus di share juga. Industry kuliner yang mulai bertumbuh menjadi gerakan besar tidak akan lepas dari dukungan human resource di warung , atau sebut resto atau katering dimana semua awaknya banyak digerakkan oleh crew crew yang memiliki keahlian minim dan kemampuan rata rata.

Mari kita bedah, siapa sebenarnya penggerak bisnis food service (saya tidak mengkotak kotakan dengan warung, karena sekarang meski menyebut kata warung banyak yang ukurannya sudah besar bahkan sangat industrialis), yakni Human resource dari kelompok yang memang relatif memiliki ciri ciri berikut :
1. Adalah tenaga kerja jika lulusan Sekolah tinggi, paling banyak adalah karena tidak tertampung di industri pabrikan atau bisnis kantoran lain yang dianggap lebih bergengsi hanya karena gajinya kontinue dan lebih tinggi.  80% jika diwawancari mengapa kerja di warung, menunggu panggilan yang lebih baik, sementara saja kerja disini (BAYANGKAN WARUNG KITA DIANGGAP SEBAGAI PERSINGGAHAN SEMENTARA). Otomatis jangan pernah berharap loyalitas dari karyawan seperti ini.
2. Adalah tenaga kerja yang sudah tidak punya pilihan lagi karena keterbatasan pendidikan dan kemampuan. Banyak warung digerakan oleh emak emak yang pasti tidak mungkin lagi bersaing dengan anak muda yang kreatif. Atau tenaga kerja yang ditolak sana sini karena tidak memenuhi spesifikasi, baik kemampuan atau altitude (BAYANGKAN WARUNG KITA MENJADI PILIHAN TERAKHIR MEREKA UNTUK HIDUP,BUKAN TUJUAN UTAMA).
3. Ada anggapan bekerja di warung seolah tidak memiliki masa depan, dengan keterbatasan yang dimiliki maka jika kerjaannya melayani tamu warung akan selamanya begitu. Jadi sangat sulit untuk memotivasi mereka. They feel free,whenever and whereare they can go.
4. Fakta bahwa usaha warung, tidak bisa membayar gaji selayaknya UMR dengan alasan ukuran bisnisnya yang reatif tidak besar atau sedang berkembang.


Lokal Wisdom, Apa Itu ?
Manajemen di warung sangat penting tapi bukan menjadi jaminan bahwa mengelola karyawan di warung dengan cara tersebut akan sukses. Saya tidak menjamin selama kondisi tersebut diatas sebagai basic persyaratan agar manajemen bisa berjalan baik. Secanggih apapun SOP, cara masak, cara menyajikan jika mengelola karyawan kurang tepat juga tidak akan bisa berjalan. Karyawan malas akan merusak performa kecepatan saji, karyawan yang suka mencuri akan menjadi racun lainnya, karyawan yang keluar masuk akan menghasilkan infisiensi karena harus rekrut rekrut setiap hari. Ujung dari dari semua itu adalah karena motivasi bekerja di warung hanya uang, sementara uang yang didapat tidak standard dengan industri lain. Sementara pula, dengan jenis pekerjaan tersebut seorang pengusaha juga akan berhitung ulang untuk membayar mahal.

Saya menyebut local wisdom yang berarti adalah cara pendekatan yang sangat personal di  yang bisa bisa diterapkan di usaha warung beberapa pengusaha. Saya masih berusaha  mengumpulkan banyak catatan menarik, ketika melihat fakta beberapa pengusaha UKM efisien mengelola karyawan warungnya tanpa teori teori manajemen kelas tinggi, sangat praktis dan bisa mengikat loyalitas.

Dalam suatu kunjungan dengan salah satu pengusaha yang memiliki usaha Bakso, dimana mengikat tukang keliling bakso dalam bentuk semacam koperasi dengan memberikan kredit rumah ternyata bisa mengikat loyalitas. Karena karyawan merasa berhutang budi dan merasa punya ruma masa depan.

Di tempat lain, seorang pengusaha kuliner malah menetapkan cara yang cukup ampuh untuk mengatasi kinerja yang lamban dengan memberikan bonus sekian ratus untuk tiap mangkuk yang dijual sehingga karyawan nya tidak perlu lagi di shift karena mereka mengejar bonus per mangkuk. Ada yang dikejar, semangat karyawan luar biasa.

Seorang Teman pengusaha warung di kota kecil juga menerapkan cara cerdas membagi uang makan setelah semua stok dihitung. Jika stok hilang maka semua crew menanggung susut atau hilangnya stoknya. Ini efektif mengendalikan check balance hilangnya makanan di warung. Kalau hanay tulisan besar di dapur  untuk menakut nakuti karyawan yang mencuri terkena sanksi, tidak efektif, cara ini adalah self check balance control antara mereka sendiri .

Sebenarnya, efek dari karyawan yang bahagia adalah pelayanan yang baik. Sebenarnya menyadari juga dengan kondisi keuangan UKM yang belum mencapai kemampuan membayar UMR maka perlu efektif cara sehingga membayar sesuai dengan yang didapat akan tercapai. Jika cara permisive kadang tidak berhasil, mengapa kita tidak berkreasi dengan local wisdom. Apa kita sudah melakukannya untuk warung kita ?.



0 komentar