SHARING KATERING, MODEL BISNIS KULINER BARU ANCAMAN ATAU PELUANG BUAT UKM ? « YuyunAnwar.Com

Senin, 11 Juni 2018

SHARING KATERING, MODEL BISNIS KULINER BARU ANCAMAN ATAU PELUANG BUAT UKM ?



SHARING KATERING, MODEL BISNIS KULINER BARU
ANCAMAN ATAU PELUANG BUAT UKM ?
Yuyun Anwar
Ig : yuyun_anwar, Fp info kursus kuliner pangan
Praktisi dan konsultan kuliner dan olahan pangan


The New Model Bisnis Katering Kekinian
Dalam beberapa tahun terakhir ini, kehadiran bisnis start up yang mampu mengerus eksistensi dan dominasi pelaku usaha kuliner terutama katering , mulai marak bahkan trend bisnis sedang mengarah kesana. Disadari atau tidak ,bentuk katering online yang secara langsung menyebut dirinya atau yang masih malu malu mendeclare sebagai katering,sangat marak berseliweran di Instagram atau setiap detik beredar di beberapa sistem aplikasi .

Era kini, katering sudah kuno banget dengan menggunakan cara lama yang baik secara process dan caranya dianggap tidak efisien dan high cost. Lamban , tidak fleksible dan mahal, output dari jasa yang dihasilkan katering konvensional menjadikan usaha ini makin tidak bisa mengantisipas perkembangan yang ada.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan dunia usaha kuliner saat ini?. Pergerakan begitu sulit dikendalikan, dari usaha jasa boga jenis kafe ataupun warung, yang bahkan mereka dengan skala besar masih menyebut jasanya warung atau kedai. Padahal antara resto dan warung beda size. Era kini, tidak peduli, dengan menyebut diri warung terihat kecil, asal gerakan cepat tidak ada masalah. Bisnis resto siap saji memang paling terlihat paling booming. Dengan mengusung tema kekinian kreatif, para pemula kuliner ini mampu menarik perhatian milenial. Ya, mileneal target market masa depan. Dengan kemampuan menangkap keinginan (bukan hanya kebutuhan) milienal, warung atau kafe ini mampu menggebrak bisnis kuliner bahkan keluar dari pakem.

Para pemula ini tidak terjebak pada “barrier” UKM lama yang selalu berpusat pada modal . Tanpa modal dari Bankpun, mereka sudah bisa membuka kerjasama dengan pihak lain. Kategori kerjasamanya bukan dengan syarat syarat berat seperti perusahaan tua masa lalu, misal franchise. Lupakan franchise, ribet kebanyakan pre requisite dan butuh waktu lama. Dengan kategori yang dibuat simple, tidak tahu sebutanya kemitraan, bisnis oportuniti, syirka atau bagi hasil. Mereka mampu berdalih. Ah, terserah. Sah saja. Yang jelas faktanya tanpa franchise begituan, bisnis mereka dalam waktu sebulan bisa bukan 5 cabang, prestasi yang tidak akan terjadi di era lalu jika tidak perusahaan besar dengan modal besar dan asset besar. Dan mereka sekarang sedang bergerak, meninggalkan pola lama yang kadang melongo melihat percepatan mereka.

Valuasi, konsep bisnis mereka banyak mengarah pada konsep tersebut. Aset bukan hanya barang kasat mata yang dilihat saat ini. Untuk besar tidak perlu punya gedung besar,jaminan asset, karyawan dst yang dulunya dianggap sebagai nilai yang menjadi parameter konvensional. Untuk dipercaya, mereka tidak tidak terlalu focus pada asset kasat mata. Ya, bisnis masa depan dan prospek adalah valuasi.
Lantas bagaimana dengan katering, dengan gerakan dan lini sama harusnya katering juga bisa berkembang cepat sama dengan kuliner resto. Bahkan keduanya saling “mencaplok peran” atau peran ganda yang bisa saling mengambil marketnya. Mari kita bedah sejauh mana bisnis katering kekinian bisa “mengacaukan” atau kerennya mendisrupt cara acara lama katering konvensional.

Difinis katering atau jasa boga menurut keputusan mentri kesehatan adalah usaha jasa atau perorangan yang melakukan kegiatan pengelolaan makanan di luar tempat usaha berdasarkan pesanan. Berdasarkan terminology tersebut sebuah usaha katering agar bisa beroperasi harus memiliki :
1. fasilitas mengelola makanan dalam hal ini bangunan
2. Peralatan katering dalam hal ini perlengkapan baik mesin, alat masak sampai saji
3. Lokasi untuk mengolah makanan dalam hal ini tanah
4. Fasilitas distribusi yang akan mengantar olahan makanan di luar dapurnya
5. Operator yang akan menjalanan peran , memasak dan menyajikan makanan
6. Manajemen pengolahan penyajian  yang akan mengatur hidangan dari pembelian bahan baku sampai saji.
7.Modal usaha yang harus disiapkan setelah menerima order katering baik untuk stok bahan atau untuk pembelian langsung barang segar.
8. Mengembangkan brand dan menu produk

Go food, bisa jadi disruptor pertama katering konvensional yang sangat mengacaukan ,karenanya katering konvensional mulai terasa, kenapa omzet jadi turun. Go food dengan baju “aplikasi jasa pengantar makanan” sebenarnya adalah katering sekaligus restoran terbesar “ , lebih besar dari resto jaringan intrenasional. Dalam satu wilayah kota, berapa ratus kedai atau resto yang bergabung dengan go food. Bayangkan, dengan hanya masuk di point 4, yakni fasilitas distribusi Go Food bisa men-disrupt peran resto chain yang tujuannya buka cabang agar bisa mendekati pasarnya.  Bahkan Go Food lebih dekat dari cabang restonya, karena aplikasi membuat konsumen lebih mudah dan asik.  Dan Go Food tanpa modal banyak sebagaimana secara konnvensional bisa jadi investnya trilyunan, tapi bisa dapat profit lumayan. Smart. Sekarang bukan hanya Go Food, ada Grab dan saya yakin akan muncul aplikasi lainnya yang akan bertambah.Tinggal pencet , masakan datang.  Sangat nyaman. Banyak yang menyebut “economic sharing” dimana P to P biz bisa terjadi. Saling memanfaatkan fasilitas atau optimalisasi modal dan fasilitas.

Go food atau aplikasi lainnya bisa jadi masih masuk di rana distribusi saja sehingga konsumen masih punya pilihan mengenal brand atau merk resto katering lain. Mereka memilih karena reference pada brand yang tercantum di aplikasi. Konsumen bisa menilai brand tersebut enak atau tidak
Bagi saya,distruption go food masih memberi peluang katering online untuk mempromosikan produknya. Konsumen masih paham brand dan produk resto/katering.Tidak “separah” katering online yang  sedang muncul dan bisa menggerus brand brand katering atau resto.  Tetap dengan konsep  “economic sharing” katering online ini “mengganggu” katering konvensional bahkan secara halus mengakuisisi brand brand kateringnya karena katering ini bergerak dengan satu nama dengan memanfaatkan semua fasiltas dari nomor 1 sampai 8.

Kulina,contoh katering online aplikasi dengan memanfaatkan kerjasama dengan dapur dapur katering lain dibawah satu paying brand. Pastilah, dengan ide luar biasa tersebut, optimalisasi seluruh pra syarat usaha katering, pricing kulina pasti murah. Dan ingat milenal suka pada yang murah dan praktis. Ini jauh lebih mendisrupt karena brand operator yang diajak kerjasama tidak muncul. Very smart.
Kedua katering online tersebut tentu saja tidak butuh waktu lama untuk membangun bisnisnya. Berbeda dengan yang konvensional. Untuk membuat usaha katering, mengurus ijin katering aja butuh setahun,butuh investasi butuh edukasi karena harus ada food safety. Sementara mereka bisa melenggang tanpa semua prasyarat itu.

UKM katering Kemana dan Dimana ?
Kedua aplikasi itu salah satu bentuk “pesaing bayangan” yang sebenarnya bukan pesaing tapi bisa mengambil market secara tidak langsung. Katering konvensional yang besar besar bisa jadi sangat terganggung dengan cara acara baru mengelola bisnis katering kekinian ini. Lalu kemana dan dimana UKM kuliner yang bergerak di rumahan ?. Apa tetap memilih cara cara mandiri mempromosikan katering kecilnya dengan cara promo gratis/kecil kecilan saja ?. Kemana sebenarnya ?
“ride the wave”, katering kecil wakutnya mengambil kedua kesempatan dengan berkembangnya kedua aplikasi tersebut. Stand out with your brand dan optimalisasi dapur dengan bekerjasama dengan mereka. Model bisnis dengan sharing catering ini sedang berkembang.  Itu tergantung anda. Ingat katering luar negeri pun sekarang mulai bermunculan di local loh,bahkan saya dengar gossip, Singapore hendak invest bisnis katering dengan fasiltas canggih. Wiih selamat datang…………….makin seru, karena tahu Indonesia butuh makan.
Di tengah perkembangan yang cepat, tetiba saya khawatir, dimana food safety ? siapa yang bertanggung jawab ? . Setelah lebaran , saya akan tulis ini.
Selamat Tentukan pilihan, ancaman atau peluang.



0 komentar